Beberapa Cara untuk Melatih Anjing

2 Cara yang Dapat Digunakan untuk Mengajar atau Melatih Anjing

Sejauh ini, mungkin hanya sedikit saja yang menyangkal bahwa anjing adalah sahabat sejati manusia, karena memang sejak beratus-ratus tahun lalu, selain kucing, burung atau hewan rumahan lainnya, anjing selalu menjadi pilihan utama untuk dipelihari.

Hal itu dikarenakan tingkat kecerdasan anjing yang memang terbukti lebih tinggi dibandingkan dengan hewan-hewan peliharaan lainnya. Bahkan anjing juga dapat untuk dilatih agar dapat melakukan tugas yang spesifik.

Anjing Merupakan Hewan yang Cerdas dan bisa menjadi sahabat Manusia

Namun untuk melatih seekor anjing bukan suatu hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan, karena dibutuhkan teknik khusus, waktu dan juga kesabaran agar semuanya dapat terwujud sesuai keinginan.

Nah, sebelum memberikan pengajaran atau pelatihan kepada seekor anjing, maka sangat penting untuk mengajarkan kepadanya hal-hal yang prinsip agar dapat terekam dalam ingatannya dan kemudian dapat digunakan ketika terjadi situasi khusus atau saat disuruh oleh tuannya.

Berikut ini adalah 2 tipe pembelajaraan atau pelatihan yang dapat diberikan kepada anjing.

Classical conditioning

untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi perilaku maladaptif

Classical cconditioning atau terkadang dikenal dengan istilah Pavlovian conditioning pertama kali ditemukan dan diciptakan oleh seorang fisikawan sekaligus psikolog bernama Yvan pavlov di akhir abad ke-19. Karena penemuannya ini, maka dia mendapatkan hadiah bergengsi yaitu sebuah Nobel di bidang ilmu pengetahuan.

Dalam penggunaannya, cara satu ini adalah sebuah proses pembelajaraan dan pelatihan yang diberikan kepada anjing untuk dapat menghilangkan atau setidaknya mengurangi perilaku maladaptif. Dengan classical conditioning ini, maka anjing akan merasa tenang dan nyaman ketika diajarkan atau dilatih sesuatu.

Operantive conditioning

Teknik membuat hewan berperilaku normal namun tertata secara sistematis.

Operantive conditioning atau juga yang disebut dengan istilah skinnerian conditioning ini tidak sama seperti cara pelatihan dan pembelajaraan kepada anjing secara tradisional, karena teknik ini dapat membuat hewan tersebut berperilaku normal namun tertata secara sistematis.

Ada 4 variable yang dapat digunakan untuk melakukan operative conditioning, yaitu penguatan yang positif, pemberian hukuman yang positif, penguatan negatif dan pemberian hukuman yang negatif. Ke-4 variabel tersebut diyakini mampu meningkatkan kebiasaan bagus atau juga mengurangi kebiasaan negatif.

Pada dasarnya, mengajarkan atau melatih kebiasaan kepada hewan apapun , maka dibutukan waktu yang cukup lama, konsisten dan kesabaran tingkat tinggi. Terlebih lagi, jika ingin memodifikasi teknik-teknik di atas agar anjing dapat berperilaku seperti yang diinginkan tuannya. Contohnya saja, untuk hanya sekadar memerintahkan anjing agar duduk, maka dibutuhkan waktu yang lama dan harus ada pengulangan-pengulangan serta latihan-latihan seperti itu secara bertahap dan berkelanjutan.

Secara logis, jika seekor anjing takut dengan keadaan sekitar atau keberadaan suatu benda atau seseorang, maka dibutuhkan cara dan rangsangan khusus agar hewan tersebut dapat menuruti dan melakukan apa yang diminta. Cara atau rangsangan khusus tersebut seperti halnya, jika anjing takut dengan sebuah vacum cleaner, maka harus secara telaten dilatih untuk melakukan aktivitas dengan jarak yang tidak begitu jauh dengan barang tersebut. Jadi dapat dikatakan bukan learning by doing, melainkan learning by imitation.

Seperti halnya lumba-lumba dn simpanse yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi dibandingkan hewan-hewan lainnya, anjing juga dapat dengan cepat memahami apa yang sedang diperintahkan oleh tuannya. Hal itu dikarenakan kemudahan bagi hewan yang bersangkutan untuk melakukan imitasi dan mempelajari serta memahami apapun yang sedang diajarkan, dilatihkan atau disuruhkan.

Setiap teknik atau cara yang disebutkan di atas tersebut merupakan sesuatu yang dapat diimplementasikan secara langsung. Hanya saja, untuk keberhasilannya tergantung dari hewan yang bersangkutan atau dari sang pelatihnya.

 

About the author: Eugene Turner