Perbedaan Bahasa Tubuh dapat dilihat saat Anjing merasa Kurang aman

Ketahui Kenapa Anjing Suka Menggigit dan Bagaimana Menghentikannya

Jika kucing suka mencakar-cakar benda atau perabotan rumah untuk mengasah kuku-kukunya, maka anjing memiliki kebiasaan lain yang mana dilakukan oleh banyak anjing di seluruh dunia, yaitu senang menggigit sesuatu atau bahkan mengejar seseorang yang tidak dikenal dan berusaha untuk menggigitnya.

Anjing memiliki kebiasaan Menggigit bahkan sampai mengejar orang lain

Pada umumnya, aktivitas suka menggigit ini hanya terjadi ketika anjing dalam fase perkembangan untuk menuju dewasa, namun ada pula yang sudah dewasa namun tetap terbiasa melakukan hal tersebut. Untuk itu, diperlukan kiat-kiat khusus untuk dapat mengajarkan dan melatih anjing agar tidak lagi suka menggigit.

Namun sebelum melangkah ke arah kiat-kiat, maka ada baiknya untuk mengetahui beberapa informasi terkait dengan hal tersebut.
Bedakan jenis gigitan
Anjing memang sangat suka menggigit, namun bukan berarti tingkat tekanannya semua sama.

Ada 2 jenis gigitan yang dilakukan oleh anjing, yaitu yang bersifat agresif dan bercanda. Terkadang anjing hanya ingin menunjukkan rasa sayang atau manjanya dengan menggigit-gigit ringan atau nipping saja tanpa ada unsur ingin mencelakai.

Namun ada kalanya juga bersikap sangat agresif dan menggigit dengan sekuat tenaga. Ada banyak faktor kenapa anjing menggigit dengan keras, salah satunya adalah karena merasa teritorinya dan tempat tuannya terancam.

Penyebab anjing menggigit

Seperti yang disebutkan di atas, ada banyak faktor yang mengebabkan anjing akhirnya menggigit dengan keras, yaitu karena lapar dan tidak segera mendapatkan makanan dari tuannya, merasa terancam atau ketakutan dan melakukan tindakan pertahanan,

merasa teritorinya atau tempat tuannya terganggu dan terancam, sedang mengalami sakit atau merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya atau juga tidak sadar karena terlalu bersemangat ketika sedang bermain atau bercanda.

Bahasa tubuh anjing Selain ada perbedaan dari segi penyebab, ada pula perbedaan bahasa tubuh ketika anjing melakukan gigitan. Pertama adalah hewan tersebut menunjukkan wajah yang tenang dan otot wajahnya tidak terlihat kaku serta mulut terbuka dan ekornya dikibas-kibaskan.

Hal tersebut memiliki artian bahwa dia sedang senang.
Kedua adalah jika anjing bertingkah aneh danotot-ototnya mengeras serta beberapa bulu di sepanjang punggungnya berdiri, telinga dan ekor juga berdiri tegak, menunjukkan gigi, menyalak dan menatap tajam, maka hal itu memiliki artian dia sedang marah atau agresif dan siap menggigit dengan keras.

Ketiga adalah jika anjing menunjukkan gerak tubuh cemas dan terlihat gemetar, telinga menghadap ke belakang atau terkulai, otot-otot tubuhnya menegang, ekor terselip di antara kaki, maka itu tandanya bahwa anjing sedang dalam keadaan ketakutan.

Setelah mengetahui informasi di atas, maka berlanjut ke informasi mengenai cara untuk mengurangi atua menghentikan anjing untuk tidak suka menggigit-gigit sembarangan.
Mengekang dan mengendalikan Ketika anjing sangat agresif dan suka menggigit,

maka langkah yang harus dilakukan pertama adalah dengan mengekangnya dengan menggunakan harness yang terbuat dari tali keras atau juga dari rantai. Setelah itu, kamu juga dapat menggunakan head halter sebagai proteksi kedua.

Dengan cara tersebut, maka anjing akan dapat lebih mudah dikendalikan.
Membawa ke dokter hewan Ada baiknya juga untuk membawa anjing ke dokter hewan agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Selain itu, kamu juga dapat melakukan konsultasi dengan psikolog hewan terkait dengan perilaku anjing yang kamu pelihara itu. Oleh karena itu, segala informasi baik yang berasal dari dokter ataupun dari psikolog hewan sangatlah penting untuk didengarkan, dicermati dan dipahami.

Membawa ke tempat latihan Tidak buruk juga jika kamu memutuskan untuk membawa anjing tersebut ke tempat pelatihan yang dapat memberikan pengajaran dengan teknik-teknik khusus. Spesialis hewan pastinya telah mengetahui dan memiliki teknik tepat untuk dapat mengajarkan anjing dengan perilaku seperti ini.

About the author: Eugene Turner